Kasus kecelakaan kerja di Indonesia memiliki angka yang cukup. Hal ini terbukti dari data terbaru yang dirilis Kementerian Ketenagakerjaan yang dikutip Katigapass mencatat, sebanyak 47.300 kasus kecelakaan, meningkat 12% dari tahun sebelumnya. Salah satu faktornya yakni kurangnya kesadaran organisasi dan keseriusan organisasi terkait keselamatan kerja. Ini bisa diakibatkan karena organisasi seringkali mengabaikan konsultasi K3.
Perang Penting yang Sering Diabaikan dalam Komunikasi dan Konsultasi K3
Kecelakaan kerja sering kali terjadinya karena beberapa hal kecil dan mendasar yang luput dari perhatian manajer maupun manajemen puncak, salah satunya yaitu komunikasi. Terdapat tiga pihak yang menjadi tonggak terciptanya keselamatan kerja di lingkungan kerja, yaitu pekerja, organisasi/perusahan, dan konsultan K3. Namun, celah kecil yang bernama komunikasi dapat menghambat implementasi Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3). Maka, komunikasi menjadi jembatan penting dalam penerapan K3 di lingkungan kerja.
Sebagai pembuat kebijakan di lingkungan kerja, organisasi memiliki tanggung jawab dalam menerapkan K3. Untuk menerapkan K3, organisasi dapat berkonsultasi dengan konsultan K3.
Konsultan K3 merupakan individu atau perusahaan yang memiliki keahlian dan pengetahuan dalam bidang Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) yang menawarkan jasa layanan konsultasi kepada organisasi atau perusahaan untuk membantu mereka dalam mematuhi regulasi K3, meningkatkan keamanan, dan mengelola risiko di lingkungan kerja.
Berdasarkan pembahasan di atas, komunikasi dapat menjadi penghambat dalam penerapan K3 dikarenakan komunikasi antara pekerja, organisasi/perusahaan, dan konsultan K3 mengalami kendala.
Baca juga: Penerapan K3 Wajib untuk Perusahaan Konstruksi sesuai PP No.14/2021
Oleh karena itu, dibutuhkan beberapa peran penting yang sering diabaikan dalam komunikasi dan konsultasi K3:
1. Partisipasi Aktif Pekerja
Konsultasi tidak hanya tentang memberitahu pekerja tentang potensi kecelakaan kerja, tetapi juga melibatkan mereka secara aktif dalam mengidentifikasi bahaya, menilai risiko, dan merumuskan solusi pengendalian yang efektif, sehingga pekerja memiliki pemahaman terbaik tentang risiko yang spesifik di lingkungan kerja.
2. Mekanisme Umpan Balik yang Efektif
Penting untuk memiliki saluran yang transparan dan mudah diakses bagi pekerja untuk melaporkan insiden, nyaris celaka, atau kekhawatiran K3 tanpa takut akan sanksi. Mekanisme ini seringkali kurang optimal atau tidak ditindaklanjuti dengan serius oleh manajemen.
3. Peran Perwakilan HSRs
Perwakilan Keselamatan dan Kesehatan atau Health and Safety Representatives (HSRs) dalam menjembatani komunikasi antara manajemen dan kelompok kerja yang ditunjuk seringkali kurang dimanfaatkan secara optimal. Pelatihan komunikasi bagi semua pihak juga diperlukan untuk memastikan dialog sosial K3 berjalan efektif.
K3 sangat penting bagi organisasi yang mengerjakan operasional dengan tingkat pekerjaan yang memiliki risiko kecelakaan menengah hingga tinggi. Oleh karena itu, mereka harus melakukan konsultasi dengan konsultan K3. Jika Anda memiliki pertanyaan terkait K3, Anda dapat mengunjungi website kami di globalindokaryaindonesia.com. Kami berpengalaman di bidang sertifikasi sistem manajemen, legalitas perusahaan, hingga ketenagalistrikan.